Jangan Sepelekan DSB (Demam, Sesak, Batuk)!

World Pneumonia Day

Seorang bapak jemaah haji pulang dari Tanah Suci datang ke dokter dengan demam, sesak dan batuk. Keluhan ini pada awalnya dirasakan ringan ketika bapak itu hendak bertolak kembali ke Tanah Air. Lambat laun, keluhan ini dirasakan semakin memberat dan sudah 3 hari ini beliau tidak mampu kembali ke kantor untuk bekerja. Demam, sesak dan batuk yang demikian berat mengakibatkan bapak ini harus dirawat di rumah sakit. Oleh dokter, bapak ini kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan radiologis dada menunjukkan terdapat bayangan putih luas di kedua lapang paru. Pemeriksaan dahak untuk bakteri tidak menunjukkan bakteri berbahaya namun ternyata ditemukan virus middle-east respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV). Bapak ini kemudian dirawat di ruang isolasi dan sempat mengalami renjatan (syok) akibat infeksi sehingga terapi penunjang seperti pemasangan alat bantu napas (ventilator) dan pemasangan infus di vena sentral dilakukan. Pada akhirnya, setelah 10 hari perawatan, bapak ini dinyatakan sembuh dan kembali ke ruang perawatan biasa sebelum dipulangkan untuk rawat jalan.

Ilustrasi di atas adalah gambaran penyakit radang paru atau pneumonia. Penyakit radang ini berlangsung di jaringan paru dan disebabkan oleh kuman-kuman seperti bakteri dan virus. Kuman tersebut umumnya terhirup dan masuk melalui saluran pernapasan. Pada keadaan normal, kuman-kuman ini dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Pada orang-orang dengan gangguan imunitas seperti pada penderita diabetes melitus (DM), pengguna obat-obatan, penderita infeksi human immunodeficiency virus (HIV), atau usia sangat muda atau sangat tua, akan lebih rentan menderita pneumonia. Penyebab pneumonia sangat beragam, mulai dari bakteri flora normal tubuh seperti Staphylococcus aureus, bakteri berbahaya yang umum ditemukan di rumah sakit seperti Pseudomonas aeruginosa hingga virus mulai dari yang musiman seperti virus influenza hingga MERS-CoV. Gejala yang umum terjadi adalah demam, sesak dan batuk berdahak. Pada keadaan pneumonia berat, dapat terjadi renjatan yang mengakibatkan asupan oksigen dan nutrisi tubuh sangat buruk sehingga terjadi penurunan kesadaran, gagal fungsi berbagai organ hingga kematian.

Data di Indonesia menurut World Health Organization/WHO tahun 2015 menunjukkan 538 hingga 988 kasus dari 100.000 perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan diakibatkan oleh pneumonia dan kematian akibat pneumonia terjadi pada 3 – 5% total seluruh penyebab kematian. Hal ini menyebabkan betapa penting pencegahan dan pengobatan pneumonia di Indonesia. Deteksi dan penanganan pneumonia bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadi pneumonia, mencegah perluasan penyakit akibat pneumonia dan mencegah kematian akibat pneumonia. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah (1) pencegahan pneumonia dengan menjaga kebersihan tubuh dan berperilaku sehat, menutup mulut ketika batuk, melakukan vaksinasi khususnya pada mereka yang hendak bepergian ke daerah rawan atau wabah atau pada mereka yang rentan terhadap pneumonia; dan (2) pencegahan perluasan penyakit dan kematian dengan segera periksakan diri ke dokter bila terdapat demam, sesak dan batuk yang memberat, melakukan tindakan cepat mendeteksi kuman penyebab pneumonia, dan pemberian antibiotik dan terapi lainnya secara rasional. 

Hari pneumonia sedunia (World Pneumonia Day) pada tanggal 12 November dicanangkan WHO untuk terus menerus mengingatkan kita terhadap pneumonia sebagai penyakit paru yang dapat menyebabkan kematian namun dapat dicegah dan diobati. Mari kita selalu ingat bahwa jangan sepelekan DSB (batuk, sesak, demam) akibat pneumonia. Segera cegah, temukan dan obati pneumonia secara rasional dan tepat.